Kamis, 08 September 2011 18.40
MENELUSURI DIMENSI AROGANSI
Suatu hari, Rosulullah berkata kepada para sahabat
"Maukah kalian, aku beritahu siapa penghuni neraka itu..?" Lalu Rosulullah melanjutkan, "Ialah setiap orang yg kasar, rakus, kikir, yang berjalan dengan angkuh..." (Muttafaq Alaih)
Keharusan bersikap rendah hati, tidak sombong, menjauhi arogansi, tak lain karena kita memang manusia biasa. Kita ini makhluk Allah, berasal dari ayah dan ibu yang satu (Adam dan Hawa). Bahkan untuk saling mengejek saja, Allah SWT melarang keras
"Hai Orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yg lain, (karena) boleh jadi mereka (yg diolok2) lebih baik dari mereka (yg mengolok2), dan jangan pula wanita2 (mengolok2) wanita2 yang lain (karena) boleh jadi wanita (yg diolok2) lebih baik dari wanita (yg mengolok2).."
(QS. Al-Hujurat :11)
Seperti sebuah virus ganas, sikap sombong, arogan, dan merasa paling super bisa merasuki segala sendi kehidupan.
Kesombongan bukan hanya idiom kekuasaan, rezim, atau kasta sosial tertentu. Nyaris tak ada sisi apapun dari hidup ini yang steril dari penyakit arogan.....
Ada beberapa jenis arogansi berikut yang layak menjadi dasar kewaspadaan :
1. Arogan karena keyakinan Ideologis
Arogansi ideologis sangat terag diperankan oleh orang2 komunis yang anti Tuhan.
Joseph Stalin hanyalah satu dari simbolnya. Stalin yang terlahir dengan nama Joseph Vissarionovich Jugashvilli, kehilangan kepercayaan pada Tuhan, saat bersentuhan dengan bacaan propaganda rovolusioner sosial. " Sebenarnya, Tuhan itu tidak ada.."katanya dalam sebuah dialog.
Yuri Gagarin, manusia pertama yang meng-orbit mengelilingi bumi, dengam terang2an menolak adanya Tuhan. Itu ia dasarkan kepada perjalanan ruang angkasanya-- yang menurutnya--- tidak menemukan Tuhan. Tahun 1967, ia tewas dalam kecelakaan pesawat tempur yg dikemudikannya.
Maskot arogansi ideologis yang paling legendaris adalah Fir'aun. Ia terhempas di Laut Merah dalam kehinaan yang tak tertandingi. Seorang raja bertangan besi dan berlidah api ternyata tak kuasa melawan air lautan.
2. Arogansi karena ilmu
Kisah kapal Titanic, adalah simbol tentang arogansi keilmuan yang tak pernah terlupakan oleh siapa saja yang punya iman.
Titanic, sebuah kapal pesiar super mewah yang pernah ada pada jamannya, adalah perpaduan keunggulan teknologi dan kemewahan fasilitas pesiar. Bahkan ia disebut sebagai munumen kecanggihan teknologi, keperkasaan, juga kemewahan yang tiada bandingannya.
Pada acara peluncuran pertama kapal Titanic, tanggal 31 mei 1911, dengan sombongnya sang pemilik kapal mengatakan,
"Not even God himself could sink this ship.....!"
Bahkan , pemilik dan pembuatnya menolak rencana untuk melengkapi kapal dengan sekoci penyelamat memadai. sekoci yang tersedia hanya cukup memuat setenagh dari daya tampung penumpangnya, yaitu 2.228 penumpang.
tanggal 10 April 1912,
Titanic mengawali pelayarannya yang megah dari Southampton, Inggris menuju New York. Namun, ditengah perjalanannya lambungnya terkoyak oleh gunung es di daerah belokan Newfoundland. Tgl. 14 April 1912, Titanic tenggelam dalam perjalanan pertamanya, dengan korban tewas 1.500 orang.
Tenggelamnya Titanic, seperti jg tenggelamnya Fir'aun, hanya menjadi penegasan, bahwa untuk melumpuhkan arogansi manusia, Allah cukup menggunakan sebagian kecil dari makhluk ciptaan-Nya.
Sesungguhnya " Kepunyaan Allah tentara langit dan bumi....."
3. Arogansi karena dilahirkan dengan status tertentu.
Imam Al Ghazali, menyebutkan banyak kondisi yg melatarbelakangi orang bersikap arogan (sombong). Diantaranya karena nasab (keturunan), seperti yang dilakukan iblis. Bahkan, iblis merupakan makhluk pertama dalam soal takabur karena nasab.
Meskipun asal manusia adalah satu, tetapi banyak ragam warna kulit dan ras yang terlahir ke muka bumi. atas dasar itu, dalam kurun yang sangat panjang, feodalisme tumbuh subur, membagi manusia berdasarkan keturunannya. sebagian disebut berdarah biru, dan sebagian lagi berdarah merah.
Bila Martin Luther king harus berjuang keras menuntut persamaan hak warga kulit hitam, lebih dari 14 abad yg lalu, Rosulullah telah mengecam perbedaan warna kulit. Saat Abu Dzar memanggil Bilal dengan 'wahai anak hitam', Rosulullah marah, dan menegur keras Abu Dzar.
4. Arogansi karena Otoritas (Jabatan)
Al-Ghazali sekali lagi, menerangkan bahwa selain karena kekayaan, kekuasaan, kecantikan, banyaknya pengikut juga bisa menjadi penyebab arogansi.
Dalam terminologi modern, arogansi kekuasaan biasanya menemukan piranti2nya pada lajur kompetisi politik.
Hitler, misalnya, adalah satu contoh sosok arogan di kancah pertarungan kekuasaan. Sejak kecil, Hitler mudah marah pada siapa yg tidak sependapat dengannya.
Ketika Jerman menyerah kalah pada PD I, ia sangat kecewa. Ia merasa bahwa hanya seorang nasionalis sejati seperti dirinyalah yang mampu membawa bangsa Arya pada kejayaannya.
Mulailah ia membuat konsep dan rencana yang ia terjemahkan dalam buku Mein Kampt, serta mendirikan Partai Pekerja Nasionalis jerman (NAZI).
Kemudian setelah memenangkan 1/3 suara dalam pemilu, ia memaksakan kehendak untuk menjadi seorang kanselir. Ia merekayasa beberapa move politik untuk mencari dukungan, hingga berhasil menjadi seorang kanselir, presiden, dan panglima besar militer.
Setelah melakukan beberapa invasi ke negara-negara Eropa, ia bertambah arogan. Ia merasa sangat layak menjadi pemimpin dunia.
Tapi pada akhir PD II tanda2 kekalahan Jerman mulai kelihatan. Ia berubah menjadi seorang psikopat, pemabuk berat, dan menderita histeria yang parah. Setelah tahu bahwa Berlin telah dikuasai tentara sekutu dan Soviet, ia melakukan bunuh diri. Ia dan teman wanitanya Eva Braun masuk ke bunker di bawah istananya untuk menghabisi nyawa sendiri. Pada April 1945, setelah menyuruh Eva Braun minum racun. Ia menembak kepalanya sendiri dengan pistol.
Segala kelebihan, potensi, dan kemampuan kita adalah pemberian Allah.
"Tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah,"
Begitupun, kita semua berada dalam ruang ketidakpastian, artinya, dibalik segala kemampuan, ada intaian bencana yang bisa datang tanpa disangka-sangka. segala penuh keterbatasan, segalanya tidak permanen.
Tak selamanya yang segar bugar mengenyam nikmatnya sehat akan bebas dari ancaman penyakit.
Logika ini yang kemudian harus menjadi petunjuk bagi setiap muslim, apapun profesinya, setinggi apapun status sosialnya, bahwa ketinggian diri justru dibangun dengan MERENDAHKAN DIRI DI HADAPAN ALLAH SWT.

Label: Umum